A. Judul
Penggunaan Metode Eksperimen Sebagai Upaya Meningkatkan
Prestasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran IPA (PTK pada Siswa Kelas II SD
Negeri 1 Limusgede, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis Tahun Pelajaran
2011/2012
B. Nama Penulis
Titi
Rosmayati
C. Bidang Kajian
Eksak
pada Mata Pelajaran IPA
D. Abstrak

Kata Kunci: Pembelajaran
IPA, Meningkatkan Prestasi Hasil Belajar, Siswa Kelas II SD, Metode Eksperimen
Penelitian
ini bermula dari adanya kesenjangan yang terjadi dalam pembelajaran IPA pada
siswa kelas II II SD Negeri 1 Limusgede, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis,
yang disebabkan oleh pengelolaan KBM kurang efektif dan efisien. Akibatnya
prestasi belajar siswa di kelas ini kurang mencapai sasaran. Salah satu faktor
penyebabnya adalah metode yang digunakan guru pada saat itu, kurang tepat dan
tidak bervariasi, sehingga aktivitas belajar siswa terkesan monoton. Untuk
mengatasinya digunakan metode eksperimen. Uji coba upaya ini dilakukan melalui
prosedur penelitian tindakan kelas oleh guru dan siswa di kelas ini, yang
berkolaborasi dengan teman sejawat yang sama kepentingannya dalam hal ini.
Setelah dilaksanakan selama tiga siklus pembelajaran IPA, baik aktivitas maupun
prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, ada baiknya upaya
seperti ini terus menerus dilakukan, agar semakin lama tujuan yang diharapkan
dalam pembelajaran IPA di kelas II dapat tercapai oleh siswa yang menjadi
subjek penelitian ini. Ada baiknya pula hasil penelitian ini didayagunakan pula
oleh guru lain yang berminat menindaklanjuti kasus serupa.
E. Pendahuluan
a. Latar Belakang Masalah
Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar
adalah suatu proses interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa
dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu komponen dalam proses
belajar mengajar merupakan pemegang peran yang sangat penting. Guru bukan hanya
sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan
sebagai sentral pembelajaran.
Sebagai pengatur sekaligus pelaku dalam proses
belajar mengajar, gurulah yang mengarahkan bagaimana proses belajar mengajar
itu dilaksanakan. Karena itu guru harus dapat membuat suatu pengajaran menjadi
lebih efektif juga menarik sehingga bahan pelajaran yang disampaikan akan
membuat siswa merasa senang dan merasa perlu untuk mempelajari bahan pelajaran
tersebut.
Guru mengemban tugas yang berat untuk
tercapainya tujuan pendidikan nasional yaitu meningkatkan kualitas manusia
Indonesia, manusia seutuhnya yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, bekerja keras,
tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani
dan rohani, juga harus mampu menumbuhkan dan memperdalam rasa cinta terhadap
tanah air, mempertebal semangat kebangsaan dan rasa kesetiakawanan sosial.
Sejalan dengan itu pendidikan nasional akan mampu mewujudkan manusia-manusia
pembangunan dan membangun dirinya sendiri serta bertanggung jawab atas
pembangunan bangsa. Depdikbud (1999).
Berhasilnya tujuan pembelajaran ditentukan
oleh banyak faktor di antaranya adalah faktor guru dalam melaksanakan proses
belajar mengajar, karena guru secara langsung dapat mempengaruhi, membina dan
meningkatkan kecerdasan serta keterampilan siswa. Untuk mengatasi permasalahan
di atas dan guna mencapai tujuan pendidikan secara maksimal, peran guru sangat
penting dan diharapkan guru memiliki cara/model mengajar yang baik dan mampu
memilih model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan konsep-konsep mata
pelajaran yang akan disampaikan.
Tujuan pendidikan nasional seperti yang
terdapat dalam Undang-undang Nomor 2 tahuan 1989 yaitu mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang beriman dan bertakwa terhadap
Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan,
sehat jasmani dan rohani kepribadian yang mantap dan mandiri serta bertanggung
jawab kemasyarakatan bangsa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1998: 3).
Tujuan pendidikan nasional ini sangat luas dan bersifat umum sehingga perlu
dijabarkan dalam Tujuan Institusional yang disesuaikan dengan jenis dan
tingkatan sekolah yang kemudian dijabarkan lagi menjadi tujuan kurikuler yang
merupakan tujuan kurikulum sekolah yang diperinci menurut bidang studi/mata
pelajaran atau kelompok mata pelajaran (Purwanto, 1988 :2). Tujuan
instruksional dijabarkan menjadi Tujuan Pembelajaran Umum dan kemudian
dijabarkan lagi menjadi Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK).
Dalam mencapai Tujuan Pembelajaran
Khusus pada mata pelajaran IPA di Sekolah Dasar, khususnya di SD Negeri 1
Limusgede masih banyak mengalami kesulitan. Hal ini terlihat dari masih
rendahnya nilai mata pelajaran IPA dibandingkan dengan nilai beberapa mata
pelajaran lainnya, mata pelajaran IPA peringkat nilainya menempati urutan
paling bawah dari enam mata pelajaran yang diebtanaskan, bertitik tolak dari
hal tersebut di atas perlu pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan yang harus
dilalukan agar siswa dalam mempelajari konsep-konsep IPA tidak mengalami
kesulitan, sehingga tujuan pembelajaran khusus yang dibuat oleh guru mata
pelajaran IPA dapat tercapai dengan baik dan hasilnya dapat memuaskan semua
pihak. Oleh sebab itu penggunaan metode pembelajaran dirasa sangat penting
untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep IPA.
Metode pembelajaran jenisnya beragam
yang masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan, maka pemilihan metode yang
sesuai dengan topik atau pokok bahasan yang akan diajarkan harus betul-betul
dipikirkan oleh guru yang akan menyampaikan materi pelajaran.
Sedangkan penggunaan metode eksperimen diharapkan
dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar sehingga dalam
proses belajar mengajar itu aktivitasnya tidak hanya didominasi oleh guru,
dengan demikian siswa akan terlibat secara fisik, emosional dan intelektual
yang pada gilirannya diharapkan konsep mengenal bagian-bagian utama tubuh hewan
dan tumbuhan, di sekitar rumah dan sekolah melalui pengamatan.yang
diajarkan oleh guru dapat dipahami oleh siswa. Berdasarkan uraian dari latar
belakang tersebut maka dalam penelitian ini fokus masalahnya tertuju pada
“Penggunaan Metode Eksperimen Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar IPA Pada
Siswa Kelas II SD Negeri 1 Limusgede, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis Tahun
Pelajaran 2011/2012”.
b. Rumusan Masalah
Pokok masalah yang dirumuskan dalam
penelitian ini, sebagai berikut.
1.
Bagaimanakah langkah-langkah menggunakan metode
eksperimen untuk meningkatkan prestasi belajar dalam pembelajaran IPA pada
siswa kelas II SD Negeri 1 Limusgede?
2.
Bagaimana peningkatan prestasi belajar siswa kelas II
SD Negeri 1 Limusgede setelah mengikuti pembelajaran IPA yang disajikan dengan
menggunakan metode eksperimen?
c. Tujuan Perbaikan
Tujuan
mengadakan penelitian in, yaitu untuk:
1.
mengetahui langkah-langkah menggunakan metode
eksperimen untuk meningkatkan prestasi belajar dalam pembelajaran IPA pada
siswa kelas II SD Negeri 1 Limusgede.
2.
mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa kelas II
SD Negeri 1 Limusgede setelah mengikuti pembelajaran IPA yang disajikan dengan
menggunakan metode eksperimen.
F. Tinjauan Pustaka
- Hakikat IPA
IPA didefiniksan sebagai suatu kumpulan
pengetahuan yang tersusun secara alam. Perkembangan IPA tidak hanya ditandai
dengan adanya fakta, tetapi juga oleh adanya metode ilmiah dan sikap ilmiah.
Metode ilmiah dan pengamatan ilmiah menekankan pada hakikat IPA.
Secara rinci hakikat IPA menurut Bridgman
(dalam Lestari, 2002: 7) adalah sebagai berikut:
1.
Kualitas; pada dasarnya konsep-konsep IPA selalu dapat
dinyatakan dalam bentuk angka-angka.
2.
Observasi dan Eksperimen; merupakan salah satu cara
untuk dapat memahami konsep-konsep IPA secara tepat dan dapat diuji
kebenarannya.
3.
Ramalan (prediksi); merupakan salah satu asumsi penting
dalam IPA bahwa misteri alam raya ini dapat dipahami dan memiliki keteraturan.
Dengan asumsi tersebut lewat pengukuran yang teliti maka berbagai peristiwa
alam yang akan terjadi dapat diprediksikan secara tepat.
4.
Progresif dan komunikatif; artinya IPA itu selalu
berkembang ke arah yang lebih sempurn dan penemuan-penemuan yang ada merupakan
kelanjutan dari penemuan sebelumnya. Proses; tahapan-tahapan yang dilalui dan
itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah dalam rangkan menemukan suatu
kebernaran.
5.
Universalitas; kebenaran yang ditemukan senantiasa
berlaku secara umum.
Dari penjelasan di atas, dapat
disimpulkan bahwa hakikat IPA, dimana konsep-konsepnya diperoleh melalui suatu
proses dengan menggunakan metode ilmiah
dan diawali dengan sikap ilmiah kemudian diperoleh hasil (produk).
- Proses Belajar Mengajar IPA
Proses dalam pengertian di sini merupakan
interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang
satu sama lainnya saling berhubungan (inter independent) dalam ikatan untuk
mencapai tujuan (Usman, 200: 5).
Belajar diartikan sebagai proses perubahan
tingka laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan
lingkungannya. Hal ini sesuai dengan yang diutarakan Burton bahwa seseorang setelah mengalami
proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik aspek
pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya. Misalnya dari tidak
bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti. (dalam Usman, 2000:
5).
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang
memerlukan tanggungjawab moral yang cukup berat. Mengajar pada prinsipnya
membimbing siswa dalam kegiatan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam
hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses
belajar.
Proses belajar mengajar merupakan suatu
inti dari proses pendidikan secara keseluruhan dengan guru sebagai pemegangn
peran utama. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung
serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang
berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Interaksi
atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama
bagi berlangsungnya proses belajar mengajar (Usman, 2000: 4). Berdasarkan
beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar IPA
meliputi kegiatan yang dilakukan guru mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan
sampai evaluasi dan program tindak lanjut yang berlangsung dalam situasi
edukatif untuk mencapai tujuan tertentu yaitu pengajaran IPA.
- Prestasi Belajar IPA
Belajar dapat membawa suatu perubahan pada
individu yang belajar. Perubahan ini merupakan pengalaman tingkah laku dari
yang kurang baik menjadi lebih baik. Pengalaman dalam belajar merupakan
pengalaman yang dituju pada hasil yang akan dicapai siswa dalam proses belajar
di sekolah. Menurut Poerwodarminto (1991: 768), prestasi belajar adalah hasil yang
dicapai (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil
pekerjaan, hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian
kerja serta perjuangan yang membutuhkan pikiran.
Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan
bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh
potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar.
Pencapaian prestasi belajartersebut dapat diketahui dengan megadakan penilaian
tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah
berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru
dapat mengetahui sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di
sekolah.
Sejalan dengan prestasi belajar, maka dapt
diartikan bahwa prestasi belajar IPA adalah nilai yang dipreoleh siswa setelah
melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek
kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam
proses belajar mengajar IPA.
- Metode Eksperimen
Karena kemajuan teknologi dan ilmu
pengertahuan, maka segala sesuatu memerlukan eksperimentasi. Begitu juga dalam
cara mengajar guru di kelas digunakan teknik eksperimen. Yang dimaksud adalah
salah satu cara mengajar, di mana siswa melakukan suatu percobaan tentang
sesuatu hal, mengamati prosesnya serta menuliskan hasil percobaannya, kemudian
hasil pengamatan itu disampaikan ke kelas dan dievaulasi oleh guru.
Penggunaan teknik ini mempunyai tujuan
agar siswa mamapu mencari dan menemukan sendiri berbagai jawaban atas
persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan mengadakan percobaan sendiri. Juga
siswa dapat terlatih dalam cra berpikir yang ilmiah (scientific thinking).
Dengan eksperimaen siswa menemukan bukti keberanaran dari teori sesuatu yang sedang
dipelajarinya.
Agar penggunaan teknik eksperimen itu
efisien dan efektif, perlu pelaksana memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.
Dalam eksperimen setiap siswa harus mengadakan
percobaan, maka jumlah alat dan bahan atau materi percobaan harus cukup bagi
tiap siswa.
2.
Agar eksperimen itu tidak gagal dan siswa menemukan
bukti yang meyakinkan, atau mungkin hasilnya tidak membahayakan, maka kondisi
alat dan mutu bahan percobaan yang digunakan harus baik dan bersih.
3.
Kemudian dalam eksperimen siswa perlu teliti dan
konsetrasi dalam mengamati proses percobaan, maka perlu adanya waktu yang cukup
lama, sehingga mereka menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari
itu.
4.
Siswa dalam eksperimen adalah sedang belajar dan
berlatih, maka perlu diberi petunjuk yang jelas, sebab mereka disamping
memeproleh pengetahuan, pengalaman serta keterampilan, juga kematangan jiwa dan
sikap perlu diperhitungkan oleh guru dalam memilih obyek eksperimen itu.
5.
Perlu dimengerti juga bahwa tidak semua masalah bisa
dieksperimenkan, seperti masalah yang mengenai kejiwaan, beberapa segi
kehidupan sosial dan keyakina manusia. Kemungkinan lain karena sangat
terbatasnya suatu alat, sehingga masalah itu tidak bisa diadakan percobaan
karena alatnya belum ada.
Bila siswa akan melaksanakan suatu
eksperimen perlu memperhatikan prosedur sebagai berikut:
1.
Perlu dijelaskan kepada siswa tentang tujuan
eksperimen, mereka harus mehami masalah yang akan dibuktikan melalui
eksperimen.
2.
Kepada siswa perlu diterangkan pula tentang:
-
Alat-alat serta bahan-bahan yang akan digunakan dalma
percobaan.
-
Agar tidak mengalami kegagalan siswa perlu mengetahui
variable-variabel yang harus dikontrol dengan ketat.
-
Urutan yang akan ditempuh sewaktu eksperimen
berlangsung.
-
Seluruh proses atau hal-hal yang penting saja yang akan
dicatat.
-
Perlu menetapkan bentuk catatan atau laporan berupa
uraian, perhitungan, grafik dan sebagainya.
3.
Selama eksperimen berlangsung, guru harus mengawasi
pekerjaan siswa. Bila perlu memberi saran atau pertanyaan yang menunjang
kesempurnaan jalannya eksperimen.
4.
Setelah eksperimen selesai guru harus mengumpulkan
hasil penelitian siswa, mendiskusikan ke kelas, dan mengavaluasi dengan tes
atau sekedar Tanya jawab.
Metode eksperimen kerap kali digunkan karena memiliki
keunggulan ialah:
1.
Dengan eksperimen siswa berlatih menggunanakan metode
ilmiah dalam menghadapi segala masalah, sehingga tidak mudah percayha apdda
sesuatu yang belum pasti kebenarannya, dan tidak mudah percaya pula kata orang,
sebelum ia membuktikan kebenarannya.
2.
Mereka lebih aktif berpikir dan berbuat, hal mana itu
sangat dikehendaki oleh kegiatan mengajar belajar yang modern, di mana siswa
lebih banyak aktif belajar sendiri dengan bimbingan guru.
3.
Siswa dalam melaksanakan proses sendiri kebenaran
sesuatu teori, sehigga akan mengubah sikap mereka yang tahayul, ialah
peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal.
- Metodologi Penelitian
a. Tempat, Waktu dan Subyek Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Tempat penelitian adalah
tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan.
Penelitian ini bertempat di kelas V SD Negeri 1 Limusgede Tahun Pelajaran 2011/2012.
2. Waktu
Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu
berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian
ini dilaksanakan pada bulan April – Mei semester genap Tahun Pelajaran 2011/2012.
3. Subyek
Penelitian
Subyek penelitian adalah
siswa-siswi KelasV SD Negeri 1 Limusgede Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pokok
bahasan mengenal bagian-bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan, di sitar rumah
dan sekolah melalui pengamatan..
b. Rancangan Penelitian
Penelitian ini mengikuti rangcangan model penelitian
tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam
Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang
berikutnya. Setiap siklus meliputi planning
(rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang
berupa identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian
tindakan kelas dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3.1 Alur PTK
Penjelasan alur di atas adalah:
- Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.
- Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode eksperimen .
- Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
- Rancangan/rencana yang direvisi, berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Observasi dibagi dalam tiga putaran,
yaitu putaran 1, 2 dan 3, dimana masing putaran dikenai perlakuan yang sama
(alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub pokok bahasan yang diakhiri
dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat dalam tiga putaran
dimaksudkan untuk memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
c. Teknik Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan dalam penelitian
ini diperoleh melalui observasi pengolahan belajar dengan metode eksperimen,
observasi aktivitas siswa dan guru, dan tes formatif.
d. Teknik Analisis Data
Untuk mengetahui keefektivan suatu metode
dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisis data. Pada penelitian ini
menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode
penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data
yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai
siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta
aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk mengalisis tingkat keberhasilan atau
persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya
dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap
akhir putaran.
Analisis
ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:
- Untuk menilai ulangan atau tes formatif
Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang
diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas
tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

Dengan :
= Nilai rata-rata

Σ X =
Jumlah semua nilai siswa
Σ N = Jumlah siswa
2. Untuk
ketuntasan belajar
Ada
dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud,
1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65%
atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat
85% yang telah mencapai daya serap lebih dari atau sama dengan 65%. Untuk
menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

H. Hasil Penelitian dan Pembahasan
- Hasil Penelitian
Siklus
I
a) Tahap
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan
perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, LKS 1, soal tes
formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b) Tahap
Kegiatan dan Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 2 April 2011 di Kelas V dengan jumlah
siswa 23 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses
belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan.
Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksaaan belajar
mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa
diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa
dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil
penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus
I
NO
|
NAMA SISWA
|
SKOR
|
KETERANGAN
|
|
T
|
TT
|
|||
1
|
Subjek
1
|
60
|
|
TT
|
2
|
Subjek
2
|
30
|
|
TT
|
3
|
Subjek
3
|
80
|
T
|
|
4
|
Subjek
4
|
60
|
|
TT
|
5
|
Subjek
5
|
40
|
|
TT
|
6
|
Subjek
6
|
80
|
T
|
|
7
|
Subjek
7
|
70
|
T
|
|
8
|
Subjek
8
|
80
|
T
|
|
9
|
Subjek
9
|
80
|
T
|
|
10
|
Subjek
10
|
70
|
T
|
|
11
|
Subjek
11
|
60
|
|
TT
|
12
|
Subjek
12
|
80
|
T
|
|
13
|
Subjek
13
|
50
|
|
TT
|
14
|
Subjek
14
|
100
|
T
|
|
15
|
Subjek
15
|
70
|
T
|
|
16
|
Subjek
16
|
70
|
T
|
|
17
|
Subjek
17
|
80
|
T
|
|
18
|
Subjek
18
|
70
|
T
|
|
19
|
Subjek
19
|
80
|
T
|
|
20
|
Subjek
20
|
60
|
|
TT
|
21
|
Subjek
21
|
80
|
T
|
|
22
|
Subjek
22
|
70
|
T
|
|
23
|
Subjek
23
|
50
|
|
TT
|
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 15
Jumlah siswa yang belum tuntas : 8
Klasikal :
Belum tuntas
Tabel 4.3. Rekapitulasi
Hasil Tes Pada Siklus I
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus I
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
68,26
15
65,22
|
Dari tabel di atas dapat dijelaskan
bahwa dengan menerapkan metode eksperimen diperoleh nilai rata-rata prestasi
belajar siswa adalah 70,29 dan ketuntasan belajar mencapai 70,59% atau ada 24
siswa dari 23 siswa sudah tuntas
belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal
siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya
sebesar 70,59% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu
sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa masih merasa baru dan belum
mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru dengan menerapkan metode
eksperimen.
Siklus
II
a) Tahap
perencanaan
Pada tahap inipeneliti mempersiapkan
perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, LKS, 2, soal tes
formatif II dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b) Tahap
kegiatan dan pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 9 Oktober 2011 di Kelas II dengan
jumlah siswa 23 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan
revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak
terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa
diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang
digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada siklus II
adalah sebagai berikut.
Tabel 4.4. Distribusi Nilai Tes
Pada Siklus II
NO
|
NAMA SISWA
|
SKOR
|
KETERANGAN
|
|
T
|
TT
|
|||
1
|
Subjek
1
|
80
|
T
|
|
2
|
Subjek
2
|
60
|
|
TT
|
3
|
Subjek
3
|
60
|
|
TT
|
4
|
Subjek
4
|
70
|
T
|
|
5
|
Subjek
5
|
70
|
T
|
|
6
|
Subjek
6
|
90
|
T
|
|
7
|
Subjek
7
|
70
|
T
|
|
8
|
Subjek
8
|
80
|
T
|
|
9
|
Subjek
9
|
80
|
T
|
|
10
|
Subjek
10
|
70
|
T
|
|
11
|
Subjek
11
|
60
|
|
TT
|
12
|
Subjek
12
|
80
|
T
|
|
13
|
Subjek
13
|
70
|
T
|
|
14
|
Subjek
14
|
90
|
T
|
|
15
|
Subjek
15
|
80
|
T
|
|
16
|
Subjek
16
|
90
|
T
|
|
17
|
Subjek
17
|
90
|
T
|
|
18
|
Subjek
18
|
80
|
T
|
|
19
|
Subjek
19
|
80
|
T
|
|
20
|
Subjek
20
|
60
|
|
TT
|
21
|
Subjek
21
|
80
|
T
|
|
22
|
Subjek
22
|
70
|
T
|
|
23
|
Subjek
23
|
60
|
|
TT
|
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas :
18
Jumlah siswa yang belum tuntas : 5
Klasikal :
Belum tuntas
Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Tes
Pada Siklus II
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus II
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
74,78
18
78,26
|
Dari tabel di atas diperoleh nilai
rata-rata prestasi belajar siswa adalah 74,78 dan ketuntasan belajar mencapai
78,26% atau ada 18 siswa dari 23 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini
menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar secara klasikal telah
mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan prestasi
belajarsiswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir
pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa
lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa
yang dimaksudkan dan dinginkan guru dengan menerapkan metode eksperimen.
Siklus
III
a) Tahap
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan
perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes
formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung.
b) Tahap
kegiatan dan pengamatan
Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
untuk siklus III dilaksanakan pada tanggal 16 Oktober 2011 di Kelas II dengan
jumlah siswa 23 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan
revisi pada siklus II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus II tidak
terulang lagi pada siklus III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa
diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan
siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang
digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada siklus III
adalah sebagai berikut.
Tabel
4.6. Distribusi Nilai Tes Pada Siklus III
NO
|
NAMA SISWA
|
SKOR
|
KETERANGAN
|
|
T
|
TT
|
|||
1
|
Subjek
1
|
80
|
T
|
|
2
|
Subjek
2
|
60
|
|
TT
|
3
|
Subjek
3
|
60
|
|
TT
|
4
|
Subjek
4
|
90
|
T
|
|
5
|
Subjek
5
|
90
|
T
|
|
6
|
Subjek
6
|
90
|
T
|
|
7
|
Subjek
7
|
90
|
T
|
|
8
|
Subjek
8
|
80
|
T
|
|
9
|
Subjek
9
|
90
|
T
|
|
10
|
Subjek
10
|
80
|
T
|
|
11
|
Subjek
11
|
80
|
T
|
|
12
|
Subjek
12
|
80
|
T
|
|
13
|
Subjek
13
|
70
|
T
|
|
14
|
Subjek
14
|
100
|
T
|
|
15
|
Subjek
15
|
80
|
T
|
|
16
|
Subjek
16
|
90
|
T
|
|
17
|
Subjek
17
|
90
|
T
|
|
18
|
Subjek
18
|
80
|
T
|
|
19
|
Subjek
19
|
90
|
T
|
|
20
|
Subjek
20
|
80
|
T
|
|
21
|
Subjek
21
|
100
|
T
|
|
22
|
Subjek
22
|
80
|
T
|
|
23
|
Subjek
23
|
60
|
|
TT
|
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah siswa yang tuntas : 20
Jumlah siswa yang belum tuntas : 3
Klasikal :
Tuntas
Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes
Pada Siklus III
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus III
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
82,60
20
86,95
|
Berdasarkan tabel diatas diperoleh nilai
rata-rata tes formatif sebesar 82,60 dan dari 23 siswa yang telah tuntas
sebanyak 20 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan belajar. Maka secara
klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 86,95% (termasuk
kategori tuntas). Hasil pada siklus III
ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya peningkatan prestasi
belajarpada siklus III ini dipengaeruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru
dalam menerapkan belajar dengan metode eksperimen sehingga siswa menjadi lebih
terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami
materi yang telah diberikan.
c. Refleksi
Pada tahap ini akah dikaji apa yang telah
terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar
mengajar dengan Penerapan metode eksperimen. Dari data-data yang telah
diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut:
1)
Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan
semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang belum
sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masing-masing aspek cukup
besar.
2)
Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa
aktif selama proses belajar berlangsung.
3)
Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya sudah
mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.
4)
Prestasi belajarsiswsa pada siklus III mencapai
ketuntasan.
d. Revisi
Pelaksanaan
Pada siklus III guru telah menerapkan
belajar dengan metode eksperimen dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa
serta prestasi belajarsiswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan
dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu
diperhatikan untuk tindakah selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan
apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar
selanjutnya penerapan metode eksperimen dapat meningkatkan proses belajar
mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
B.
Pembahasan
a. Ketuntasan
Prestasi Belajar Siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan
bahwa metode eksperimen memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa
terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan belajar meningkat dari sklus
I, II, dan III) yaitu masing-masing 65,22%, 78,26%, dan 86,95%. Pada siklus III
ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai.
b. Kemampuan
Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran dalam setiap siklus mengalami
peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu
dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus
yang terus mengalami peningkatan.
c. Aktivitas
Guru dan Siswa Dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh
aktivitas siswa dalam proses pembelajaran IPA pada pokok bahasan perubahan mengenal
bagian-bagian utama tubuh hewan dan tumbuhan, di sitar rumah dan sekolah melalui pengamatan. dengan metode
eksperimen yang paling dominan adalah mendengarkan/ memperhatikan penjelasan
guru, dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan
bahwa aktivitas isiwa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama
pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah belajar dengan metode
eksperimen dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya
aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan
LKS/menemukan konsep, menjelaskan, memberi umpan balik/evaluasi/tanya jawab
dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup besar.
I. Kesimpulan
Dari hasil kegiatan pembelajaran yang
telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta
analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Langkah-langkah
pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen telah memberi dampak
positif terhadap peningkatan prestasi belajar siswa kelas II SD Negeri 1
Limusgede yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam
setiap siklus, yaitu siklus I (65,22%), siklus II (78,26%), siklus III
(86,95%).
- Penggunaan metode eksperimen dalam pembelajaran IPA terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas II SD Negeri 1 Limusgede yang ditunjukan dengan rata-rata prestasi belajar seperti di atas. Demikian pun terhadap motivasi belajar siswa di kelas ini telah memberi dampak yang baik, seperti terungkap dari jawaban siswa hasil wawancara yang menyatakan bahwa siswa tertarik dan berminat dengn metode eksperimen sehingga mereka menjadi termotivasi untuk belajar.
J. Daftar Pustaka
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar.
Bandung: Sinar Baru Algesindon.
Arikunto, Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, Suharsimi.
1998. Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Combs. Arthur. W. 1984. The Profesional Education of Teachers.
Allin and Bacon, Inc. Boston.
Dahar, R.W. 1989. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar
Mengajar, Jakarta.
Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Rineksa Cipta.
Hadi, Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan Penerbitan
Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.
Hamalik, Oemar. 1994. Metode Pendidikan. Bandung: Citra Aditya
Bakti.
Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Hudoyo, H. 1990. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Malang: IKIP Malang.
Kemmis, S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action Research Planner. Victoria Dearcin University
Press.
Margono. 1997. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineksa Cipta.
Mursell, James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan).
Bandung: Jemmars.
Ngalim, Purwanto M.
1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Ngalim, Purwanto M.
1990. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosda Karya.
Rustiyah, N.K. 1991. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Saliwangi, B. 1988. Pengantar Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Malang: IKIP Malang.
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Soekamto, Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model Pembelajaran.
Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan, Suatu Pendekatan
Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Wetherington. H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik Belajar dan Mengajar.
(terjemahan) Bandung: Jemmars.